Indeks Sumut-Sebanyak 2000 orang dinyatakan tewas dalam aksi unjuk rasa yang terjadi di Iran sejak desember lalu, hal itu terdata oleh kelompok pemantau hak asasi, Selasa (13/01/2026)
Menteri Luar Negeri Sayed Abbas Araghchi, juga mengatakan korban mencapai 2000 orang, padahal sebelumnya unjuk rasa awalnya dipicu persoalan ekonomi, termasuk fluktuasi nilai tukar riyal Iran, dan dilaporkan berlangsung damai sebelum beberapa elemen menyalahgunakannya.
“Pada hari Minggu, 28 Desember 2025, menyusul fluktuasi nilai tukar, terjadi unjuk rasa serikat pekerja dan ekonomi yang terdiri dari beberapa pengusaha dan pedagang di Tehran, namun akibatnya hingga kini korban tewas mencapai 2000 orang,” sebutnya
Unjuk rasa itu diadakan dengan motif mata pencaharian dan sebagai reaksi dampak negatif fluktuasi mata uang terhadap kegiatan bisnis dan daya beli.
“Tuntutan utama mereka adalah untuk mengembalikan stabilitas pasar dan menerapkan langkah-langkah ekonomi yang efektif. Unjuk rasa itu sejak awal bersifat umum. Unjuk rasa berlangsung damai, berorientasi pada serikat pekerja dan tuntutan,” tambahnya
Ucapnya sebelumnya para pengunjuk rasa berusaha menyampaikan tuntutan dengan tenang tanpa mengganggu ketertiban umum
Sayed menegaskan Republik Islam Iran menghormati hak warga untuk menyampaikan pendapat dan berdemonstrasi secara damai, sesuai hukum nasional dan komitmen internasional, termasuk Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (ICCPR). Namun, pemerintah Iran juga menyoroti adanya penyusupan elemen kekerasan
“Sayangnya, menurut dokumentasi yang ada, dalam beberapa kasus, unjuk rasa damai telah disalah gunakan secara sengaja oleh sejumlah kecil elemen kekerasan yang berafiliasi terhadap gerakan yang disetir dari luar,” jelasnya lagi
Katanya sehingga menyebabkan pengrusakan properti publik, penyerangan terhadap lembaga penegak hukum, dan penggunaan alat pembakar dan bahkan senjata api.
“Tindakan-tindakan ini tidak ada hubungannya dengan tuntutan ekonomi yang sah dan dianggap berada di luar cakupan perlindungan terhadap unjuk rasa damai menurut hukum hak asasi manusia internasional,” kata menlu Iran.
Human Rights Activists News Agency (HRANA) berbasis di Amerika Serikat, juga mendata jumlah korban jiwa akibat protes nasional di Iran mencapai sedikitnya 2000 orang. Angka ini jauh melampaui korban dalam setiap putaran unjuk rasa atau kerusuhan lain di Iran selama puluhan tahun, bahkan mengingatkan pada kekacauan yang menyertai Revolusi Islam 1979.

