Indeks Sumut – Korban penembakan Medan Belawan masih menyisakan luka mendalam bagi Romanda Capriati Siregar (33). Hingga kini, ia kebingungan memikirkan biaya pengobatan untuk AA (4), anaknya yang terkena peluru di bagian mata. Kondisi anaknya belum tertangani secara medis karena keterbatasan fasilitas dan biaya.
Korban penembakan Medan Belawan itu kini dirawat di RSUD Pirngadi, Kota Medan. Usai insiden, AA sempat dibawa ke klinik terdekat dan RS PHC Belawan. Namun, karena keterbatasan penanganan, dokter merujuk AA ke RSUD Pirngadi.
Romanda mengaku awalnya berharap pengobatan anaknya dapat ditanggung BPJS Kesehatan. Namun, ia baru mengetahui bahwa BPJS tidak dapat digunakan untuk kasus yang menimpa anaknya. Akhirnya, pihak rumah sakit hanya memberikan keringanan biaya melalui surat keterangan tidak mampu.
“Karena ada BPJS-nya kami datang ke sini. Tapi ternyata tak bisa dipakai,” ujar Romanda saat ditemui di RSUD Pirngadi, Selasa (6/1/2026).
Masalah tak berhenti di situ. Hingga kini, belum ada kepastian lokasi operasi. RSUD Pirngadi tidak memiliki alat yang dibutuhkan. RSUP Adam Malik tidak memiliki dokter yang sesuai. Sementara Rumah Sakit USU dalam kondisi penuh.
“Jadi kami bingung, ini kapan mau ditangani. Kami hanya bisa sabar menunggu,” kata Romanda dengan nada pasrah.
Korban penembakan Medan Belawan itu masih menyimpan peluru di kepala. Setiap AA berkedip, darah kerap keluar dari matanya. Kondisi ini membuat sang ibu semakin cemas karena operasi belum juga dilakukan.
Romanda mengaku tidak sanggup membayar biaya operasi secara mandiri. Ia berharap ada bantuan dari pemerintah agar peluru di kepala anaknya bisa segera diangkat dan AA dapat kembali sehat seperti anak-anak lain.
“Kami orang susah. Berharap ke BPJS tak bisa. Jadi hanya berharap bantuan pemerintah,” ucapnya.
Kronologi Penembakan
Korban penembakan Medan Belawan itu tertembak pada Senin (5/1/2025). Saat itu, Romanda dan AA sedang menaiki becak untuk menjemput suaminya di Pasar Baru.
Ketika melintas di dekat Rumah Sakit Prima Husada Cipta Belawan, becak mereka terhenti karena sekelompok pemuda terlibat tawuran. Tiba-tiba, AA menangis histeris. Romanda baru menyadari mata anaknya sudah berlumuran darah.
“Anak saya kena tembak. Saya panik karena darah terus keluar dari matanya,” ujar Romanda.
Ia langsung membawa AA ke klinik terdekat. Karena tak mampu menangani, AA dirujuk ke RS PHC Belawan. Namun, rumah sakit tersebut juga tidak bisa melakukan tindakan medis lanjutan. Akhirnya, mereka dibawa ke RSUD Pirngadi.
Hingga kini, operasi belum dilakukan. Rencana selanjutnya, AA akan dirujuk ke Rumah Sakit USU jika sudah tersedia dokter dan ruang perawatan. Romanda hanya berharap satu hal, anaknya bisa selamat dan kembali melihat dengan normal.

