Indeks Sumut – Pratu Farkhan Syauqi Marpaung (23) meninggal dunia dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta masyarakat Kabupaten Asahan. Prajurit TNI Angkatan Darat ini diduga meninggal akibat penganiayaan yang dilakukan oleh seniornya saat bertugas di Papua.
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung yang akrab disapa Tuah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Desa Hessa Air Genting, Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan, pada Sabtu, 3 Januari 2026. Prosesi pemakaman berlangsung haru dan dihadiri keluarga serta warga setempat.
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung merupakan lulusan Tamtama TNI AD tahun 2020. Ia telah berdinas selama lima tahun dan baru tujuh bulan menjalani penugasan di Papua. Farkhan bertugas di Yonif 113/Jaya Sakti dan berangkat dari Aceh pada Mei 2025 bersama ratusan prajurit lainnya.
Ibu almarhum, Masinah Wati Silalahi, mengatakan sebelum berangkat ke Papua, Farkhan terlebih dahulu meminta izin kepadanya. Meski berat, Masinah mengikhlaskan kepergian anak sulungnya karena menjadi prajurit TNI adalah cita-cita Farkhan sejak duduk di bangku SMP.
Selama bertugas, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung rutin berkomunikasi dengan ibunya melalui telepon. Dalam sehari, Farkhan bisa menghubungi hingga tiga kali hanya untuk menanyakan kabar keluarga.
Komunikasi terakhir terjadi pada Selasa pagi, 30 Desember 2025. Saat itu Masinah sedang bersiap mengikuti rapat sehingga percakapan berlangsung singkat. Masinah tidak menyangka percakapan tersebut menjadi yang terakhir.
Keesokan harinya, Rabu 31 Desember 2025, Masinah mulai merasa heran karena Farkhan tidak menghubungi seperti biasanya. Ia masih berpikir positif, termasuk menunggu kebiasaan anaknya yang selalu mengirim gaji setiap tanggal 1 kepada orang tua.
Sekitar pukul 14.00 WIB, Masinah dan suaminya, Zakaria Marpaung, menerima kabar duka dari Babinsa bahwa Pratu Farkhan Syauqi Marpaung telah meninggal dunia. Kabar itu membuat keluarga syok dan Masinah langsung menangis histeris.
Kepastian kabar duka kembali diterima dari seorang keponakan keluarga yang juga merupakan prajurit TNI. Dari informasi yang diterima keluarga, kematian Farkhan diduga tidak hanya karena sakit, tetapi juga akibat penganiayaan oleh rekan satu timnya yang berpangkat Kopral Dua.
Masinah mengungkapkan, beberapa hari sebelum meninggal, Farkhan sempat mengeluh demam tinggi. Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, Farkhan disebut mengalami sakit demam yang diduga malaria sebelum akhirnya meninggal.
Menurut keluarga, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung dikenal sebagai pribadi yang baik, penurut kepada orang tua, rajin beribadah, dan peduli kepada sesama. Ia juga dikenal royal dan tidak pelit kepada keluarga.
Keluarga menyatakan bangga atas pengabdian Farkhan sebagai prajurit negara. Namun, mereka tidak bisa menerima jika kematian tersebut terjadi akibat tindakan kekerasan dari sesama prajurit.
Masinah berharap pihak berwenang mengusut tuntas kasus ini. Ia meminta pelaku penganiayaan terhadap Pratu Farkhan Syauqi Marpaung dihukum seberat-beratnya dan diberi sanksi tegas sesuai hukum yang berlaku.

