Indeks Sumut-Sebanyak 11 orang jadi korban  insiden pesawat ATR 42-500, milik Indonesia Air Transport, yang jatuh di lereng selatan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), demikian dikatakan Kepala Badan Pencarian dan Pertolongan atau search and rescue (SAR) Nasional (Basarnas), Marsekal Madya M Syafii, Senin (19/01/2026)
Kata Marsekal Madya M Syafii, sebanyak 11 orang jadi korban setelah pesawat ATR 42-500 hilang kontak saat dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar, dengan penyebab awal diduga akibat controlled flight into terrain (menabrak gunung) karena masalah teknis dan kegagalan sistem pemancar sinyal darurat (ELT).
“Dalam insiden pesawat ATR 42-500, milik Indonesia Air Transport, yang jatuh di lereng selatan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel) memakan korban 11 orang belum kita temukan,” ungkap Marsekal Madya M Syafii
Kata Syafii, sejak peristiwa, Sabtu 17 Januari 2026, hingga kini masih terus dilakukan pencarian. Namun, upaya tim gabungan menghadapi tantangan berat akibat kondisi cuaca ekstrem, berupa kabut tebal dan hujan yang menyelimuti wilayah lokasi kejadian, sehingga menyulitkan akses dan proses evakuasi terhadap para korban.
“Berdasarkan data sementara, total terdapat 11 korban dalam peristiwa nahas tersebut, yang terdiri dari 8 orang kru pesawat dan 3 orang penumpang yang diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),” terangnya
Di antara para korban, terdapat dua pramugari yang hingga saat ini belum ditemukan, yakni Florencia Lolita dan Eshter Aprilita. Keduanya dikenal sebagai awak kabin yang berdedikasi dan ramah, serta memiliki rekam jejak baik di dunia penerbangan.
“Tragedi ini semakin menyayat hati lantaran Florencia Lolita diketahui akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Rencana bahagia yang telah dipersiapkan bersama keluarga dan pasangan harus terhenti oleh musibah yang tak terduga, meninggalkan duka mendalam bagi orang-orang terdekat,” tambahnya
Peristiwa yang merenggut 11 korban ini kembali menjadi peringatan serius bagi dunia penerbangan, khususnya terkait kesiapan operasional di tengah kondisi cuaca ekstrem. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan melakukan evaluasi menyeluruh guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

