Kayu Hanyutan Banjir Jadi Solusi Cepat Bangun Rumah Warga

Indeks Sumut – Kayu hanyutan pascabencana banjir dan longsor di Aceh Utara dan Kabupaten Tapanuli Selatan kini dimanfaatkan untuk membangun kembali rumah warga terdampak. Langkah ini dilakukan secara terkontrol untuk membantu pemulihan masyarakat dengan cepat dan aman.

Kayu hanyutan banjir Aceh Utara yang telah diukur dan dinyatakan layak hingga 6 Januari 2026 mencapai 454 batang. Total volumenya 730,95 meter kubik. Seluruh kayu tersebut berasal dari material hanyut akibat banjir dan longsor.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, menyatakan pemanfaatan kayu dilakukan secara tertib. Prosesnya dibantu alat berat agar lebih cepat dan aman bagi warga.

Menurut Subhan, kayu yang layak langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan darurat masyarakat. Prioritas utama adalah membantu warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.

Pemanfaatan kayu hanyutan difokuskan untuk pembangunan hunian sementara (huntara). Model huntara ini disusun berdasarkan hasil kajian dan riset dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Hingga saat ini, pemanfaatan kayu oleh masyarakat dan lembaga kemanusiaan tercatat 28,86 meter kubik. Progres pembangunan mencakup dua unit huntara dalam proses dan satu unit telah selesai dibangun.

Di Kabupaten Tapanuli Selatan, pemanfaatan kayu hanyutan juga dilakukan secara besar-besaran. Lokasi kegiatan berada di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol.

Sebanyak 20 unit alat berat dan 10 unit dump truck dikerahkan di wilayah tersebut. Kayu yang telah dipilah dan diolah digunakan untuk kebutuhan pengungsian dan penanganan darurat warga.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengonfirmasi bahwa pemanfaatan kayu hanyutan ini telah sesuai aturan. Dasarnya adalah Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 863 Tahun 2025.

Aturan tersebut mengatur pemanfaatan kayu hanyutan akibat banjir sebagai sumber material rehabilitasi dan pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, proses pemilahan kayu didukung 35 unit alat berat. Alat ini digunakan untuk membersihkan kayu di halaman rumah warga dan di aliran sungai.

Dari Kemenhut, terdapat 30 unit alat berat, terdiri dari 14 ekskavator capit, 11 ekskavator bucket, dan 5 bulldozer. TNI menurunkan 4 unit alat berat, sedangkan Kementerian PUPR mengerahkan 1 unit ekskavator.

Kepala Balai Besar KSDA Sumatra Utara, Novita Kusuma Wardani, menegaskan seluruh proses diawasi ketat. Pemanfaatan dilakukan sesuai ketentuan dan dicatat secara resmi.

Novita menyebutkan 430 keping kayu olahan dengan volume 6,95 meter kubik telah digunakan. Kayu tersebut dimanfaatkan sebagai alas lantai untuk 267 unit tenda darurat.

Pengawasan terus dilakukan agar kayu hanyutan benar-benar digunakan untuk kebutuhan warga terdampak. Pemerintah memastikan tidak ada penyalahgunaan material bencana.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini