spot_img
spot_img

Tragis! Balita 4 Tahun di Belawan Kena Peluru Nyasar, Proyektil Bersarang di Kepala

Indeks Sumut – Peluru nyasar kembali memakan korban di Belawan, Medan, Sumatera Utara. Seorang balita perempuan berusia 4 tahun bernama Asmi Anggraini tertembak saat terjadi tawuran, Senin malam (5/1/2026). Hingga kini, korban masih dirawat intensif di RSUD Dr Pirngadi Medan.

Peluru nyasar tersebut bersarang di bagian kepala, tepatnya di rongga mata kanan korban. Hasil Computed Tomography Scan (CT Scan) menunjukkan adanya proyektil yang diduga berasal dari senapan angin. Peluru hingga saat ini belum dapat diangkat melalui operasi.

Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUD Dr Pirngadi Medan, Gibson Girsang, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyatakan peluru masih berada di dalam rongga kepala korban berdasarkan hasil pemeriksaan medis. “Dari hasil rontgen, dokter menyampaikan itu peluru dan masih bersarang di kepala,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).

Operasi pengangkatan peluru belum dilakukan karena RSUD Dr Pirngadi tidak memiliki dokter spesialis mata. Pihak rumah sakit kini berkoordinasi dengan RS Universitas Sumatera Utara (USU) dan RSUP H Adam Malik. Namun, RS USU mengalami keterbatasan ruang perawatan, sementara dokter mata di RSUP H Adam Malik sedang tidak berada di tempat.

Balita korban peluru nyasar tersebut tampak lemah saat ditemui di ruang perawatan. Asmi duduk di ranjang rumah sakit dengan mata kanan tertutup perban. Tubuhnya terlihat pucat, dan selang infus terpasang di tangan kirinya. Sesekali, ia meringis menahan rasa sakit.

Balita
Romanda Siregar (33) ibu korban setia mendampingi. Jaket jeans yang dikenakannya masih tampak terkena bercak darah anaknya

Di sisi tempat tidur, ibunya Romanda Siregar (33) setia mendampingi. Jaket jeans yang dikenakannya masih tampak terkena bercak darah anaknya. Romanda menceritakan detik-detik anaknya tertembak saat mereka berada di perjalanan.

Menurut Romanda, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 19.30 WIB. Ia bersama Asmi menaiki becak motor untuk menjemput suaminya yang bekerja sebagai nelayan. Mereka berencana menghadiri acara tahun baru sekaligus silaturahmi ke rumah rekan suaminya.

Saat melintas di depan Kantor Pos Belawan, Jalan Medan–Belawan, perjalanan mereka terhenti karena sekelompok orang sedang tawuran. Demi keselamatan, mereka memilih menunggu hingga situasi mereda. Namun, tiba-tiba Asmi memegang mata kanannya dan menangis kesakitan.

Romanda terkejut saat melihat darah mengalir deras dari mata kanan anaknya hingga membasahi pakaian. Ia langsung memeluk Asmi dan meminta sopir becak membawa mereka ke rumah sakit. Sayangnya, akses jalan menuju rumah sakit terhalang karena tawuran masih berlangsung.

Mereka sempat dibawa ke sebuah klinik terdekat, namun pihak klinik menyatakan tidak mampu menangani karena luka berada di bagian mata. Setelah itu, Romanda kembali mencoba menuju rumah sakit lain, tetapi jalan masih ditutup.

Dalam kondisi panik, Romanda turun dari becak dan menggendong anaknya yang berlumuran darah menuju rumah sakit. Di rumah sakit pertama, ia kembali kecewa karena dokter mata tidak tersedia. Akhirnya, ia menumpang mobil warga untuk membawa Asmi ke RSUD Dr Pirngadi Medan.

Setibanya di RSUD Dr Pirngadi, Asmi langsung mendapatkan penanganan medis dan dilakukan CT Scan. Dari hasil pemeriksaan itulah diketahui bahwa peluru bersarang di mata kanan korban. “Anaknya tidak rewel, tapi kadang kalau berkedip darah keluar dan terlihat kesakitan,” kata Romanda dengan suara lirih.

Kasus peluru nyasar akibat tawuran ini kembali menjadi sorotan serius. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa konflik jalanan tidak hanya membahayakan pelaku, tetapi juga masyarakat sipil, termasuk anak-anak yang tidak bersalah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini