Indeks Sumut-Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menemukan, sebanyak 70 anak terpapar ideologi kekerasan ekstrem, komunitas media sosial (medsos) terkait penyebaran ideologi kekerasan ekstrem melalui grup true crime community (TCC).
“Komunitas yang mempengaruhi sekira 70 anak ini tidak didirikan oleh tokoh pendiri, organisasi, maupun institusi. Tetapi dia tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital yang merupakan pertemuan antara minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang transnasional,” kata Juru Bicara Densus 88 Polri, Kombes Mayndra Eka Wardhana dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta.
Namun, Mayndra tidak membeberkan detail jumlah grup medsos yang dimaksud. Dia hanya menampilkan sejumlah nama grup yang terafiliasi jaringan TCC. Dan terdata 70 anak yang terpapar
Di antaranya FTCI Film True Crime Indonesia, WAG TCC Reborn (True Crime Community), WAG AREATCC, TANAH SUCI TCC, Indonesia Headhunter, Meinchat hingga Group kasih sayang. Ada juga Anarko Libertarian Maoist, Armyof Legion, bahkan Have sex with your gun.
Mayndra menyebut ada tujuh puluh anak di Indonesia yang menjadi member grup itu. Ke-70 anak itu tersebar di 19 provinsi dan paling banyak berasal dari Pulau Jawa, seperti Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
“Ada tujuh puluh anak di 19 provinsi (yang teridentifikasi sebagai member grup TCC). Di mana provinsi yang terbanyak yaitu DKI Jakarta ada 15 orang, kemudian Jawa Barat 12 orang, dan Jawa Timur 11 orang, setelah itu menyebar di beberapa daerah,” beber Mayndra.
Mayndra mengatakan 67 anak dari jumlah itu telah dilakukan asesmen, mapping hingga konseling sebagai bentuk intervensi. Menurutnya, mayoritas anak-anak yang terpapar berada pada rentang usia 11-18 tahun. Adapun, salah satu pemicu anak-anak bergabung dengan komunitas ini akibat perundungan.
“Rata-rata yang bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau di lingkungan masyarakat, jadi di luar sekolah,” ujar Mayndra.
Ada juga faktor ketidakharmonisan dalam keluarga, kurang perhatian, adanya akses device berlebihan hingga terpapar video-video pornografi.
Sehingga, anak-anak merasa grup atau komunitasnya sebagai rumah kedua.Terlebih, di dalam komunitas itu aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya, bisa terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan rekomendasi atau masukan untuk menyelesaikan solusinya masing-masing. Tentunya dengan kekerasan-kekerasan.
“Anak-anak kita ini, mereka tidak menganut paham ini secara penuh atau total ya. Mereka hanya menjadikan ini sebagai inspirasi, dan tadi, rumah kedua bagi mereka,” kata Mayndra.
Mayndra mengatakan sebagian anak-anak sudah melakukan pembelian replika senjata api, busur, dan pisau. Target kekerasannya orang-orang yang dianggap sebagai pembuli di lingkungan sekolah-sekolah.
“Kemudian atribut yang berbau militer yang memang kerap juga terkait dengan simbol-simbol yang telah disampaikan sebelumnya. Dan juga ada komponen elektro, bahkan bahan peledak, yang teridentifikasi berbahaya. Dan tentunya ada atribut, buku, dan beberapa konten-konten yang bermuatan ideologis,” pungkas Mayndra menanggapi terpaparnya 70 anak di Indonesia

