Indeks Sumut – Banjir dan longsor Tapanuli Tengah yang melanda Lorong I, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sejak Selasa (25/11/2025), meninggalkan dampak serius bagi warga. Hingga awal Januari 2026, kebutuhan air bersih masih menjadi masalah utama yang belum teratasi.
Banjir Hutanabolon paling parah merusak Lorong III dan IV. Di lokasi tersebut, kerusakan berat terjadi dan bahkan menelan korban jiwa. Akibatnya, sebagian besar warga terpaksa mengungsi. Sementara itu, Lorong I dan II juga terdampak banjir, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Kepala Lingkungan I Kelurahan Hutanabolon, Rasokki Panggabean (57), mengatakan warga di Lorong I dan II sangat membutuhkan air bersih untuk kebutuhan dasar. Air diperlukan untuk mandi, minum, dan mencuci pakaian. Menurutnya, air bersih saat ini menjadi kebutuhan paling mendesak.
Rasokki menjelaskan, saat ini warga hanya mengandalkan sumur bor bantuan pemerintah yang jumlahnya terbatas. Sebagian warga yang memiliki kemampuan ekonomi terpaksa membuat sumur sendiri. Bantuan air bersih menggunakan mobil tangki sempat diberikan beberapa minggu setelah banjir, namun sejak awal tahun 2026 bantuan tersebut sudah tidak ada lagi.
Akibat kerusakan rumah yang parah, puluhan warga Lorong I masih mengungsi. Mereka tinggal di posko pengungsian Simp Sipange, Kecamatan Tukka, atau menumpang di rumah keluarga. Banyak rumah warga tidak bisa dihuni karena rusak berat akibat banjir.
Meski demikian, bantuan logistik bagi 211 kepala keluarga terus disalurkan. Bantuan berasal dari pemerintah dan masyarakat, termasuk bahan kebutuhan pokok. Pemerintah juga telah mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makanan para pengungsi.
Untuk kondisi kelistrikan, Rasokki memastikan aliran listrik di Lorong I dan II sudah kembali normal. Warga kini dapat beraktivitas dengan penerangan listrik seperti biasa.
Masalah lain yang belum teratasi adalah lumpur banjir yang masih menumpuk di dalam dan sekitar rumah warga. Rasokki menilai pembersihan tidak bisa dilakukan dengan alat seadanya. Warga membutuhkan alat berat dan bantuan petugas agar rumah dapat kembali dihuni.
Aparat Kepolisian telah membantu membersihkan lumpur, terutama di fasilitas umum seperti jalan, sekolah, dan rumah ibadah. Namun, rumah-rumah warga masih banyak yang belum bisa dibersihkan secara maksimal.
Rasokki juga mengungkapkan, banjir susulan masih kerap terjadi setelah bencana utama. Salah satunya terjadi pada Jumat (2/1/2026). Karena itu, warga selalu waspada, terutama saat hujan turun, tanpa perlu imbauan khusus.
Menurutnya, warga kini selalu siap mengungsi kapan saja. Sungai di sekitar pemukiman terus dipantau, terutama saat hujan deras, untuk mengantisipasi banjir kembali datang.

