Habitat Orang Utan Tapanuli Hancur, Ancaman Kepunahan Kian Nyata

Indeks Sumut – Habitat orang utan Tapanuli di hutan Sumatera kini berada di ambang kehancuran. Bencana banjir besar dan longsor telah merusak kawasan hutan yang menjadi satu-satunya rumah bagi kera besar paling langka di dunia ini.

Orang utan Tapanuli memiliki populasi yang sangat kecil, yakni kurang dari 800 ekor di alam liar. Spesies ini hanya hidup di wilayah Batang Toru, Sumatera Utara, dan baru diakui secara ilmiah sebagai spesies terpisah pada tahun 2017. Kondisi tersebut membuat setiap ancaman menjadi sangat serius.

“Kehilangan seekor orang utan saja merupakan pukulan telak bagi kelangsungan hidup spesies ini,” ujar Panut Hadisiswoyo, pendiri dan ketua Pusat Informasi Orangutan Indonesia, Senin (15/12/2025).

Banjir dan longsor dilaporkan telah menghancurkan sebagian besar habitat alami orang utan Tapanuli. Hutan yang sebelumnya menjadi sumber makanan dan tempat berlindung kini rusak parah, menyisakan bentang alam yang tidak lagi aman bagi satwa liar.

Para ahli konservasi menilai kerusakan habitat ini sebagai ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup orang utan Tapanuli. Jumlah populasi yang sangat sedikit membuat spesies ini tidak mampu menoleransi kehilangan individu dalam jumlah kecil sekalipun.

Erik Meijaard, konservasionis orang utan, memperkirakan antara enam hingga 11 persen populasi orang utan Tapanuli kemungkinan besar telah mati akibat bencana tersebut. Angka ini dinilai sangat mengkhawatirkan.

“Angka kematian individu dewasa yang melebihi satu persen akan mendorong spesies menuju kepunahan, apa pun ukuran populasinya di awal,” tegas Meijaard.

Citra satelit menunjukkan kerusakan besar di kawasan pegunungan Batang Toru. Terlihat sayatan longsor yang membentang lebih dari satu kilometer dengan lebar hampir 100 meter. Material lumpur, pepohonan tumbang, dan air mengalir deras menuruni lereng bukit.

Gelombang material tersebut tidak hanya menghancurkan hutan, tetapi juga menghanyutkan satwa liar lain di jalurnya, termasuk gajah. Kondisi ini memperparah tekanan ekologis di wilayah yang sebelumnya sudah rentan.

Kerusakan habitat berarti hilangnya sumber makanan dan jalur pergerakan antarindividu orang utan. Padahal, konektivitas hutan sangat penting untuk proses reproduksi dan menjaga keberlangsungan populasi jangka panjang.

David Gaveau, ahli penginderaan jarak jauh dan pendiri perusahaan rintisan konservasi The Tree Map, mengaku terkejut melihat perubahan drastis di wilayah tersebut.

“Saya belum pernah melihat kerusakan seperti ini selama 20 tahun memantau deforestasi di Indonesia menggunakan satelit,” ujarnya.

Para pakar lingkungan kini mendesak adanya langkah cepat dan tegas untuk melindungi sisa habitat orang utan Tapanuli. Perlindungan hutan yang tersisa dinilai sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kepunahan spesies langka yang hanya dimiliki Indonesia ini.

Jika kerusakan terus dibiarkan, orang utan Tapanuli berisiko hilang selamanya dari alam liar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini